[Esai Foto] Suasana MRT Jakarta Saat PSBB



Digadangkan untuk tonggak ke arah peradaban baru, MRT Jakarta yang baru berusia satu tahun semakin sedikit harus hadapi ujian berat berbentuk epidemi Covid-19. Model transportasi kekinian yang mulai jadi jagoan masyarakat Jakarta ini harus terima fakta jika penumpang tidak lagi seramai sebelum epidemi.

Hand sanitizer dengan background peron Stasiun MRT Istana olahraga Senayan yang nampak sepi di jam repot (photo: widikurniawan) Berdasar penilaian saya saat memakai MRT ke arah tempat kerja, di jam repot pagi hari serta sore hari tidak lagi ada kepadatan penumpang seperti sebelum epidemi. Ditambah saat PSBB keseluruhan kembali lagi diaplikasikan di DKI Jakarta semenjak 14 September lantas, seringkali saya menjumpai situasi saat satu gerbong cuma diisi kurang dari 5 orang atau serta didalamnya cuma saya sendirian.

Hmm, jadi terasanya MRT punyai pribadi.
Penumpang harus disiplin mengaplikasikan prosedur kesehatan (photo: widikurniawan)
Sepi gaes di gerbong ini (photo: widikurniawan) Bila ini, petugas tidak perlu ribet lakukan limitasi penumpang yang cuma 62-67 orang per kereta, sebab banyaknya penumpang juga kenyataannya seringkali kurang dari itu.

Tempat stasiun juga sering nampak benar-benar lengang, khususnya di stasiun-stasiun yang umumnya memang termasuk sepi seperti Stasiun ASEAN serta Stasiun Bundaran Senayan. Waktu PSBB ini, seringkali nampak panorama saat jumlah petugas malah semakin banyak dibandingkan penumpang yang hilir mudik di tempat stasiun.

Penampakan Stasiun MRT layang ASEAN (photo: widikurniawan)
Pintu masuk stasiun MRT bawah tanah Istana olahraga Senayan (photo: widikurniawan) Masalah agenda service di waktu PSBB keseluruhan ini, MRT Jakarta menetapkan jam operasional dari jam 05.00 WIB sampai 20.00 WIB dengan selang waktu antar MRT 10 menit. Agenda itu berlaku dari tanggal 17-20 September 2020. Sedang mulai tanggal 21-27 September 2020, jam operasional ialah jam 05.00 WIB sampai 19.00 WIB dengan selang waktu antar MRT 10 menit.

Papan penunjuk agenda keberangkatan kereta (photo: widikurniawan) Dari agenda itu ada ketidaksamaan di jam operasional optimal serta selang waktu antar MRT. Bila awalnya di jam repot selang waktu diaplikasikan 5 menit, sekarang tidak ada ketidaksamaan lagi antar jam repot serta di luar jam repot, saling selang saatnya 10 menit.

Tentunya beberapa pekerja yang tidak WFH serta biasa memercayakan MRT Jakarta untuk transportasi, harus terpaksa sesuaikan lagi dengan agenda itu.

Bila harus berdiri di MRT, lihat sinyal ini (photo: widikurniawan) Waktu epidemi menggempur dunia, dapat disebut MRT Jakarta jadi salah satunya paling baik untuk tempat publik yang mengaplikasikan prosedur kesehatan dengan ketat. Untuk salah satunya pemakai layanan MRT Jakarta, saya setiap hari melihat sendiri bagaimana petugas-petugas MRT Jakarta demikian disiplin mengaplikasikan prosedur kesehatan.

Mulai dari penumpang masuk di tempat stasiun, petugas akan cepat mengecek temperatur badan tiap orang yang akan masuk tempat peron. Semua front liner juga nampak kenakan masker, face shield serta sarung tangan dalam layani konsumen setia.

Kebersihan jadi hal paling dijaga di tempat stasiun atau di MRT. Serta bersamaan sepinya penumpang, petugas kebersihan masih dituntut selalu untuk cepat setiap waktu bersihkan tempat stasiun seperti toilet, eskalator, lift, tangga dan lain-lain.


 

Postingan populer dari blog ini

Heatwaves have a huge impact on our physical and mental health